Sejarah Kue Tradisional dan Asal Muasal Jajanan di Sekitar Kamu

Sejarah Kue Tradisional

Pernah tidak, saat sedang berjalan melewati pasar pagi, tiba-tiba aroma kelapa parut, gula merah, santan, atau adonan kue yang baru matang membuat langkah kaki berhenti sejenak?

Ada sesuatu yang unik dari jajanan tradisional. Bentuknya mungkin sederhana, harganya bersahabat, dan mudah ditemukan di pasar atau warung sekitar rumah. Namun, di balik sepotong kue atau sebungkus jajanan pasar, tersimpan cerita tentang perjalanan budaya, perdagangan, kebiasaan masyarakat, hingga pertemuan berbagai tradisi kuliner.

Itulah sebabnya Sejarah Kue Tradisional selalu menarik untuk dibicarakan. Jajanan yang kita kenal sekarang tidak semuanya lahir begitu saja di dapur masyarakat Indonesia. Sebagian berkembang melalui perjalanan panjang, mengalami perubahan resep, berganti nama, bahkan memiliki versi berbeda di setiap daerah.

Lalu, dari mana sebenarnya jajanan yang sering kita temui berasal?

Mengapa Jajanan Tradisional Begitu Dekat dengan Kehidupan Masyarakat?

Istilah jajanan pasar tentu sudah sangat akrab di telinga. Secara sederhana, istilah ini merujuk pada aneka kudapan yang secara tradisional banyak dijual di pasar, terutama pasar tradisional. Dahulu, pasar bukan hanya tempat membeli kebutuhan sehari-hari. Pasar juga menjadi ruang bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang. Pedagang dari daerah lain dapat membawa bahan makanan, teknik memasak, hingga resep yang kemudian beradaptasi dengan masyarakat setempat.

Tidak mengherankan jika satu jenis kue bisa memiliki nama berbeda di daerah lain. Begitu pula dengan bahan dan cara membuatnya yang dapat berubah sesuai kebiasaan masyarakat. Dari sinilah cerita jajanan tradisional menjadi semakin menarik. Mari kita mulai dari kudapan kecil yang punya kejutan manis di dalamnya.

1. Klepon, Si Kecil dengan Kejutan Gula Merah

Siapa yang tidak mengenal klepon? Bentuknya bulat kecil, biasanya berwarna hijau, kemudian diselimuti kelapa parut. Sekilas tampak sederhana. Namun, begitu digigit, gula merah cair di dalamnya langsung pecah memenuhi mulut. Klepon dibuat menggunakan tepung ketan yang diberi isian gula merah. Adonan kemudian dibentuk bulat dan direbus hingga matang sebelum akhirnya dilumuri kelapa parut.

Menariknya, jejak klepon di Jawa telah dikaitkan dengan Serat Centhini yang ditulis pada awal abad ke-19. Dalam perkembangannya, makanan sejenis juga dikenal di berbagai wilayah Asia Tenggara dengan nama dan bentuk yang berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan sebuah makanan bisa sangat panjang. Resep dapat berpindah bersama manusia, kemudian berubah mengikuti bahan, kebiasaan, dan selera masyarakat di tempat baru. Jadi, ketika menikmati klepon, sebenarnya kita tidak hanya sedang makan kue ketan berisi gula merah. Kita sedang mencicipi salah satu bagian dari perjalanan kuliner Nusantara.

2. Kue Putu dan Suara Kukusan yang Melegenda

Ada jajanan yang dapat dikenali bahkan sebelum penjualnya terlihat. Bunyinya khas. “Tiit!” Suara tersebut biasanya keluar dari alat kukus yang digunakan untuk membuat kue putu. Bagi banyak orang, suara itu menjadi semacam panggilan nostalgia, terutama ketika terdengar pada sore atau malam hari. Kue putu dibuat dari tepung beras yang diberi isian gula merah. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam tabung bambu dan dikukus menggunakan uap panas. Setelah matang, kue disajikan bersama kelapa parut.

Kisah asal-usulnya cukup menarik karena terdapat makanan serupa dalam tradisi kuliner Tiongkok. Di Nusantara sendiri, penganan yang menyerupai putu telah muncul dalam catatan lama seperti Serat Centhini. Seiring waktu, kue ini berkembang menjadi bagian dari budaya jajan masyarakat Indonesia. Bentuknya tetap sederhana, tetapi cara penjualannya justru menjadi bagian dari daya tariknya.

Bayangkan saja: malam mulai turun, jalanan mulai sepi, kemudian terdengar suara kukusan dari kejauhan. Tanpa perlu melihat papan nama, banyak orang langsung tahu bahwa kue putu sedang lewat.

3. Serabi, Kue Tradisional dengan Banyak Versi

Kalau membicarakan kue tradisional, rasanya kurang lengkap tanpa menyebut serabi. Serabi merupakan kue berbentuk bundar yang dibuat dari adonan berbahan tepung dan santan, kemudian dimasak menggunakan cetakan kecil. Bagian pinggirnya biasanya lebih matang, sedangkan bagian tengahnya terasa lembut. Yang membuat serabi menarik adalah keberagamannya.

Di satu daerah, serabi bisa disajikan dengan kuah santan manis. Di daerah lain, serabi justru dikenal sebagai kue yang gurih dan sederhana. Ada pula serabi yang diberi berbagai topping modern. Sejarah serabi sendiri memiliki beberapa versi. Salah satunya mengaitkan serabi dengan makanan dari tradisi India yang memiliki kemiripan bentuk dan teknik pengolahan. Namun, serabi juga telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Jawa.

Dari sini kita dapat melihat bahwa makanan tradisional tidak selalu memiliki satu cerita asal-usul yang sederhana. Terkadang sejarahnya merupakan hasil pertemuan berbagai kebudayaan. Dan justru di situlah letak keunikannya.

4. Onde-Onde, Jajanan yang Menempuh Perjalanan Panjang

Sekarang coba bayangkan sebuah bola kecil berwarna keemasan dengan permukaan penuh wijen. Ya, onde-onde. Onde-onde yang populer di Indonesia umumnya dibuat dari tepung ketan, diisi kacang hijau, kemudian dilapisi wijen sebelum digoreng hingga berwarna kecokelatan.

Namun, perjalanan onde-onde ternyata berkaitan dengan tradisi kuliner Tiongkok. Makanan berbentuk bulat berlapis wijen sudah dikenal dalam kebudayaan Tiongkok dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia. Ketika sampai di Indonesia, resep dan bentuknya beradaptasi dengan bahan serta selera masyarakat lokal.

Yang lebih menarik, nama onde-onde tidak selalu mempunyai arti yang sama di seluruh Indonesia. Di beberapa daerah, istilah tersebut bahkan dapat digunakan untuk menyebut jenis jajanan yang berbeda. Jadi, jika suatu hari Anda berkunjung ke daerah lain dan menemukan “onde-onde” dengan bentuk yang tidak seperti biasanya, jangan langsung menganggap penjualnya salah. Bisa jadi, Anda sedang berkenalan dengan versi lokal dari perjalanan kuliner yang sama.

5. Lemper, Ketan Gurih yang Selalu Hadir dalam Acara Tradisional

Berbeda dari klepon dan putu yang identik dengan rasa manis, lemper hadir dengan karakter gurih. Ketan yang sudah dimasak hingga pulen dibentuk memanjang dan diisi dengan ayam berbumbu, abon, atau bahan lainnya. Setelah itu, lemper biasanya dibungkus menggunakan daun pisang.

Aroma daun pisang yang berpadu dengan ketan hangat menjadi salah satu daya tariknya. Lemper juga mempunyai posisi khusus dalam berbagai acara masyarakat. Kudapan ini kerap muncul dalam hajatan, pertemuan keluarga, pengajian, hingga acara tradisional.

Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi cukup mengenyangkan. Karena itu, lemper sejak lama cocok dijadikan bekal maupun makanan selingan. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan. Tidak membutuhkan dekorasi rumit atau bahan mahal untuk membuatnya terasa istimewa.

6. Kue Lumpur, Lembut dan Sederhana

Namanya memang terdengar unik. Namun, jangan biarkan namanya membuat Anda membayangkan sesuatu yang aneh. Kue ini justru terkenal karena teksturnya yang lembut dan rasa gurih-manis yang khas. Kue lumpur umumnya dibuat menggunakan campuran tepung, santan, telur, dan kentang. Adonan kemudian dimasak menggunakan cetakan hingga menghasilkan permukaan yang lembut.

Bagian atasnya sering dihias dengan kismis atau bahan pelengkap lainnya. Seperti banyak jajanan tradisional lainnya, kue lumpur menunjukkan bagaimana resep dapat berkembang mengikuti zaman. Bahan-bahan yang digunakan dapat mengalami perubahan, tetapi karakter lembut dan gurihnya tetap dipertahankan.

Dari sini kita bisa melihat bahwa makanan tradisional sebenarnya tidak harus selalu dibuat dengan cara yang benar-benar sama seperti dahulu. Yang terpenting adalah identitas dan rasa yang membuat orang tetap mengenalinya.

7. Martabak atau Terang Bulan? Cerita di Balik Dua Nama

Sejarah Kue Tradisional

Nah, sekarang kita masuk ke jajanan yang mungkin paling sering memicu perdebatan. Martabak manis atau terang bulan? Jika Anda bertanya kepada orang dari daerah berbeda, jawabannya bisa sangat beragam.

Martabak sendiri memiliki sejarah yang berkaitan dengan makanan bernama mutabbaq, istilah yang berasal dari bahasa Arab dan berkaitan dengan makanan yang dilipat. Di Indonesia, martabak gurih berkembang sebagai makanan berisi telur, daging, dan berbagai bumbu.

Namun, cerita martabak manis memiliki jalur yang berbeda. Salah satu kisah yang sering dikaitkan dengannya adalah Hok Lo Pan, kudapan yang berkembang dalam komunitas Tionghoa di Bangka. Makanan tersebut kemudian ikut menyebar ke daerah lain melalui perpindahan masyarakat dan aktivitas perdagangan.

Di berbagai kota, makanan ini kemudian mengalami perubahan nama. Ada yang menyebutnya martabak manis, terang bulan, atau martabak bangka. Resepnya pun terus berkembang. Dahulu, pilihan isian mungkin tidak sebanyak sekarang. Kini, kita bisa menemukan martabak dengan kacang, cokelat, keju, wijen, susu, hingga berbagai kombinasi topping kekinian.

Menariknya, meskipun tampilannya sudah semakin modern, dasar pembuatannya masih mempertahankan karakter jajanan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Dari Jajanan Pasar hingga Camilan Kekinian

Jika diperhatikan lebih jauh, hampir semua jajanan tadi mempunyai satu kesamaan: mereka mampu berubah tanpa benar-benar kehilangan identitasnya. Klepon kini tidak selalu berwarna hijau. Serabi bisa hadir dengan berbagai topping. Martabak berkembang menjadi makanan dengan puluhan pilihan rasa. Putu pun tidak lagi hanya dikenal dari penjual keliling, tetapi mulai hadir dalam berbagai bentuk sajian modern.

Perubahan tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar. Makanan selalu mengikuti manusia. Ketika gaya hidup berubah, makanan pun ikut beradaptasi. Yang dahulu dibuat untuk acara keluarga kini bisa dijual melalui toko modern. Yang awalnya hanya ditemukan di pasar tradisional kini bisa masuk ke kafe dan restoran.

Namun, akar ceritanya tetap penting untuk diingat.

Menjaga Cerita di Balik Sepotong Kue

Pada akhirnya, membicarakan Sejarah Kue Tradisional bukan sekadar mencari tahu siapa yang pertama kali membuat sebuah makanan. Lebih dari itu, kita sedang membicarakan perjalanan manusia. Ada pedagang yang membawa resep ke kota lain. Beberapa keluarga yang mempertahankan cara membuat kue dari generasi ke generasi. Bahkan ada juga masyarakat yang mengubah bahan sesuai hasil bumi di daerahnya. Ada pula pertemuan budaya yang menghasilkan makanan baru.

Semua proses tersebut berlangsung perlahan hingga jajanan yang dahulu terasa asing akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jadi, lain kali ketika melewati pasar dan melihat klepon, putu, serabi, onde-onde, lemper, kue lumpur, atau martabak, coba berhenti sebentar. Pilih satu jajanan. Nikmati perlahan. Karena di balik makanan kecil yang mungkin hanya habis dalam beberapa gigitan, bisa tersimpan perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang kita bayangkan.

Jajanan tradisional bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita yang bisa dimakan—dan setiap daerah memiliki kisahnya sendiri.